Menari, Menebar Gairah Hidup

MENARI, ya, menari. Tidak usah pakai beban macam-macam, yang penting menebar kegembiraan, menebar gairah hidup. Itulah penampilan spektakuler kelompok tari asal Inggris, Spirit of the Dance, di Jakarta Convention Center, Sabtu (10/5) malam. Sekitar 3.600 penonton dibuat terkesima, hati mungkin berbuncah, menyaksikan pertunjukan yang digelar oleh Java Musikindo itu.

SPIRIT of the Dance yang menampilkan 25 penari menyuguhkan beragam jenis tari seperti balet, flamenco, salsa, sampai jazz. Namun, inti penampilan mereka adalah tap dance, tarian yang berakar dari tradisi tari Irlandia-suatu daerah indah berbukit-bukit, berkabut, terkenal dengan militansi dan elan kerakyatannya. Dari gairah rakyat yang merdeka dan jiwa penuh vitalitas itulah muncul tari seperti ini, kegembiraan seperti ini-sisi lain dari bakat seni yang sepertinya berlimpah-limpah di Irlandia sejak para sastrawan seperti Oscar Wilde sampai deretan penyanyi cantik seperti The Corrs.

Jenis tari tap dance-seperti namanya-menekankan gerak telapak kaki yang menimbulkan efek bunyi ritmik akibat entakan sepatu pada lantai pentas. Sejumlah penari serentak melakukan gerakan tap, mengentak-entakkan kaki ke lantai. Presisi dan akurasi mereka terukur prima dan matematis. Sementara wajah, senyum, dan tatapan mata mereka begitu ekspresif.

Tarian tradisi Irlandia itu dipermodern dengan koreografi yang memasukkan beragam unsur gerak di luar pakem tradisi. Panggung disiram tata cahaya warna-warni. Dalam hal tata cahaya ini, tak ada komentar lain kecuali ini: prima.

Jika oleh sementara orang tari telanjur dikesankan sebagai tontonan eksklusif di pusat kesenian yang serba “adiluhung”, kemayu dalam pemanjaan kritikus yang melebih-lebihkan sesuatu, maka Spirit of the Dance mengubah kesan tersebut. Mereka menari tanpa pretensi, menyuguhkan tontonan segar, menghibur, bahkan bagi penonton yang tak terbiasa menikmati tari sekalipun. Kalau Anda pernah melihat musikal di Broadway yang publiknya adalah para turis dari seluruh dunia yang inti kejiwaannya pokoknya pengin seneng, maka Spirit of the Dance lebih lagi. Dalam pertunjukan musikal masih ada alur cerita, sementara di sini yang ada adalah ekspresi tubuh yang menebar kegembiraan, dalam tarian indah (padahal, tubuh mereka tanpa menari pun sudah indah).

Dari kaki para penari yang tak kalah indahnya itulah kita mendengar ketukan langkah yang girang, ber-cericit, dan berbagai hal lain yang menimbulkan suasana hati macam-macam.

Dalam sebuah nomor tari, penari melakukan gerakan melompat dengan ringan dan halus. Mereka seakan melakukannya tanpa tenaga- begitu luwesnya gerakan itu sehingga gerak yang hanya sedetik itu meninggalkan kesan tubuh yang melayang selama beberapa saat.

SPIRIT of the Dance yang diinspirasi oleh kelompok tari Riverdance didirikan oleh David King pada tahun 1996. Mereka menggelar pertunjukan pertama di Hippodrome Theatre, Bristol, Inggris, pada September 1996. Mereka dikonsep sebagai kelompok tari yang berbasis tarian tradisional Irlandia diramu dengan beragam jenis tari dari berbagai negeri seperti balet, tango, flamenco, salsa sampai jazz. Mereka mengemas suguhan layaknya tontonan panggung Broadway yaitu spektakuler, glamor, mudah dicerna mata segala jenis penonton, singkatnya menghibur.

Produktivitas Spirit of the Dance bagaikan kerja sebuah “pabrik” hiburan. Dalam satu malam, mereka pernah menggelar pertunjukan di enam tempat berbeda di negara yang berlainan pula. Kerja spartan ini dimungkinkan karena mereka didukung 250 penari, 150 teknisi, 50 pemusik, dan 75 personel yang menangani manajemen. Konon, seperti ditulis situs kelompok tari itu, total pertunjukan mereka ditonton lebih dari 20 juta orang.

Penari Spirit of the Dance yang berasal dari Inggris dan Irlandia dilatih keras setiap hari di “padepokan” mereka di London dan Dublin. Untuk penampilan prima, mereka dilatih dengan disiplin ketat ala militer. Meski bekerja rutin, para penari mengaku tetap profesional dan tidak terjebak pada pekerjaan yang mekanis. Mereka menjaga spirit sebagai seniman tari-tidak lalu menjadi “mesin”.

“Kami tetap menari dengan ekspresi yang datang dari dalam jiwa. Menari itu pekerjaan sekaligus impian kami. Meski kami harus bekerja keras, tapi kami harus tetap menari dengan perasaan terbaik kami,” kata Fleur Mellor, dara manis berkulit sawo matang dalam wawancara dengan Kompas, Suara Pembaruan, dan Warta Kota.

Mereka mengakui persoalan pribadi, situasi batin, alias mood yang buruk bisa saja menghinggapi pemain. Namun, begitu naik pentas, perasaan tidak nyaman itu hilang.

“Begitu musik berbunyi kami seperti mendapatkan gairah. Kami saling memberi semangat kepada teman, entah itu dengan teriakan atau senyuman, ” kata penari lainnya bernama Lauren Thomas.

“Ketika penonton bereaksi kami mendapat banyak energi. Kami sangat bangga bila penonton memberi tepuk tangan panjang sambil berdiri,” tambah penari lainnya, Amy Eftekhari.

MEREKA mengembalikan tarian rakyat tap dance kepada rakyat. Tarian itu telah melewati proses mulai sebagai tarian jalanan sampai ke layar lebar Hollywood. Kini tarian jalanan itu disuguhkan langsung, hangat-hangat ke depan mata khalayak yang lebih luas.

Di Amerika, tarian itu masuk pada abad ke-19. Elemen gerakan tap dance menyerupai unsur gerakan tari Afrika. Itulah mengapa kaum kulit hitam Amerika ketika itu cepat sekali mengakrabi tarian tersebut. Gerakan kaki yang cepat atau jig khas Irlandia berpadu dengan gaya melonjak-lonjak pada tarian Afrika-yang mengingatkan tari Gedrug-Gedrug karya Bagong Kussudiardja.

Tap dance gaya baru hasil perpaduan antar-ras di Amerika itu, pada abad ke-19, masih menjadi tarian jalanan yang digemari imigran Irlandia dan para budak kulit hitam. Mereka itu dalam struktur sosial masih berada di lapisan bawah.

Tari tapak versi jalanan itu kemudian diangkat ke vaudeville, semacam pertunjukan komedi. Tap dance kemudian memasuki pentas Broadway dan akhirnya merembet sampai industri film Hollywood. Fred Astaire adalah yang memopulerkan tap dance di Hollywood, sementara Gene Kelly adalah contoh aktor dan penari yang memopulerkan tap dance lewat Singing in the Rain (1952). Tap dance kemudian menjadi bagian dari jagat hiburan pop Amerika yang digemari di mana pun. Ingat, Pak Triman dari panggung Srimulat terampil ber-tap dance.

Belakangan muncul kelompok tari seperti Riverdance tadi, disusul kemudian Spirit of the Dance. Mereka merevitalisasi tarian rakyat dan menyebarkan sebagai hiburan massal yang dikemas rapi.

“Tarian adalah gairah hidup saya. Saya beruntung bekerja sekaligus mendapat semangat hidup dari menari,” kata penari Spirit of the Dance, Michael Byrne.

Jadi, biarlah mereka menari dan penonton menikmati semangat gerak kehidupan. (XAR)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/11/utama/306570.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s